Perempuan itu berdiri di sana, di depan pintu yang senantiasa terbuka setelah subuh agar rezeki menyerbu ke dalam bersama udara segar, meski justru nyamuk yang paling banyak masuk. Tubuhnya tinggi menjulang, dengan sebuah keranjang rotan berisi garam bertengger diam di atas kepalanya. Dia tidak pernah memegang keranjang tersebut bahkan saat berjalan dari kampung ke kampung. Tubuhnya bergerak berirama ketika kaki terayun, tapi keranjang rotan itu tetap diam, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kepalanya.
Dari tempatku duduk di atas lantai semen, dia terlihat bagaikan seorang raksasa yang kelaparan. Tubuhnya tambun dengan kulit gelap serupa kain hitam yang digunakan sebagai alat di kepalanya yang ujung-ujungnya menutup kedua telinga. Hidungnya seperti buah jambu dengan dua lubang besar dan gelap. Kata kakak, dia tidak menelan anak-anak melalui mulutnya yang berbibir tebal dan hitam seperti lintah, melainkan memasukkan langsung melalui kedua lubang hidungnya. Dia melakukan itu bila keranjang di kepalanya tidak cukup lagi menyimpan anak-anak yang tidak menghabiskan nasinya di piring.
Sering aku berpikir bagaimana dia melakukan semua itu. Lubang hidungnya memang besar, lebih besar dari lubang hidung kakek yang berbulu putih dan mencuat keluar. Namun, jangankan memasukkan kepalaku, kepalan tanganku pun rasanya tidak akan muat ke lubang itu. Kakak mengatakan lubang hidung sangat elastis, dia bisa melar seperti karet. Semua lubang hidung demikian adanya, tapi lubang hidung perempuan itu akan menelan apa saja yang dijejaki tuannya, termasuk anak-anak. Kakak mengajariku memasukkan seluruh jemari—mulai kelingking yang kecil sampai jempol yang besar—ke lubang hidung dan semuanya masuk dengan mudah. “Begitulah dia memasukkan anak kecil ke lubang hidungnya.”