Catatan Mahasiswa

GORESAN PEMIKIRAN & UKIRAN PENGALAMAN SEORANG MAHASISWA

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Oktober 2013

PEREMPUAN BERAROMA GARAM





Unknown | 3:51:00 PM | In | Be the first to comment! | +1


Perempuan itu berdiri di sana, di depan pintu yang senantiasa terbuka setelah subuh agar rezeki menyerbu ke dalam bersama udara segar, meski justru nyamuk yang paling banyak masuk. Tubuhnya tinggi menjulang, dengan sebuah keranjang rotan berisi garam bertengger diam di atas kepalanya. Dia tidak pernah memegang keranjang tersebut bahkan saat berjalan dari kampung ke kampung. Tubuhnya bergerak berirama ketika kaki terayun, tapi keranjang rotan itu tetap diam, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kepalanya.

Dari tempatku duduk di atas lantai semen, dia terlihat bagaikan seorang raksasa yang kelaparan. Tubuhnya tambun dengan kulit gelap serupa kain hitam yang digunakan sebagai alat di kepalanya yang ujung-ujungnya menutup kedua telinga. Hidungnya seperti buah jambu dengan dua lubang besar dan gelap. Kata kakak, dia tidak menelan anak-anak melalui mulutnya yang berbibir tebal dan hitam seperti lintah, melainkan memasukkan langsung melalui kedua lubang hidungnya. Dia melakukan  itu bila keranjang di kepalanya tidak cukup lagi menyimpan anak-anak yang tidak menghabiskan nasinya di piring.

Sering aku berpikir bagaimana dia melakukan semua itu. Lubang hidungnya memang besar, lebih besar dari lubang hidung kakek yang berbulu putih dan mencuat keluar. Namun, jangankan memasukkan kepalaku, kepalan tanganku pun rasanya tidak akan muat ke lubang itu. Kakak mengatakan lubang hidung sangat elastis, dia bisa melar seperti karet. Semua lubang hidung demikian adanya, tapi lubang hidung perempuan itu akan menelan apa saja yang dijejaki tuannya, termasuk anak-anak. Kakak mengajariku memasukkan seluruh jemari—mulai kelingking yang kecil sampai jempol yang besar—ke lubang hidung dan semuanya masuk dengan mudah. “Begitulah dia memasukkan anak kecil ke lubang hidungnya.”

RUMAH BARU





Unknown | 1:44:00 PM | In | Be the first to comment! | +1


Hujan masih deras mengguyur halaman. Jalanan didepan rumahnya sunyi dan sepi. Hanya sesekali dia melihat ada kendaraan lewat dan sesekali tukang baso mendorong gerobaknya. Dia termenung didepan kamarnya sambil memperhatikan rumput dihalaman rumahnya yang tergenang air. Dia merasakan kesunyian suasana, sesunyi perasaannya. Sudah dua hari ini dia merasakan keadaan rumah seperti ini, suram dan mendung. Bahkan Wulan dan Anggi yang biasanya ribut berceloteh dan berebut mainan, kini lebih senang bermain dibelakang rumah bersama Bi Ifah atau hanya menonton acara televisi tanpa banyak berkomentar. Dan dia yang paling merasakan dan tersiksa dengan keadaan seperti ini.

Bila suasana sedang begini, biasanya dia jadi malas pulang kerumah. Seusai jam kantor, rasanya dia ingin jalan-jalan dulu, meskipun tidak belanja tapi cukup cuci mata melihat barang-barang model terbaru. Sekedar mengendorkan kekesalannya agar berkurang. Tapi itu tak mungkin dilakukannya. Hanya karena kesal dan jengkel pada  Risman, suaminya, masa dia harus mengorbankan semuanya. Setiap dia pulang,  masih ada Wulan dan Anggi yang berhamburan membukakan pintu depan dan menyambut kedatangannya. Jadi, sekesal apapun perasaannya pada Risman, masih ada makhluk lain dalam rumahnya yang mampu membuatnya tersenyum dan menghapuskan kelelahan diwajahnya. Ah, seandainya saja semua bisa berjalan harmonis dan damai, alangkah menyenangkannya tinggal dirumah ini, rumah baru mereka yang belum setahun ini mereka tinggali.

    Sambil memandang air hujan yang mengalir dari atas genteng,  dia jadi teringat ketika mereka berkeliling mencari rumah baru yang akan mereka huni. Kebetulan saja ada salah seorang temannya yang memberitahu ada orang yang akan menjual rumah ini. Dan kebetulan mereka cocok setelah melihat rumah ini. Rumah ini tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil. Cocok untuk keluarga kecil seperti mereka. Dan cocok pula dengan keuangan mereka yang hanya mampu membeli rumah dengan ukuran sedang seperti itu.

Memandang rumah ini seakan menggoreskan kembali ingatannya pada rumah lama yang mereka jual setelah empat tahun mereka tinggali. Dia tak betah tinggal dirumah itu dan mengajukan gagasan pada Risman untuk pindah kekawasan yang lebih nyaman. Risman tidak keberatan meskipun dia sendiri mengatakan khawatir uangnya  tidak akan mencukupi untuk membeli rumah dikawasan yang lebih nyaman. Dia lalu menunjukan uang tabungannya yang menurut perkiraannya cukup untuk membeli rumah dikawasan yang lebih nyaman. Ditambah dengan uang hasil penjualan rumah mereka yang lama, uang itu pasti mencukupi untuk membeli sebuah rumah baru. Akhirnya  Risman setuju, bahkan dia juga ikut mencari informasi dan memberikan gagasan-gagasan padanya agar mereka benar-benar puas dengan kawasan yang mereka pilih hingga tak harus pindah rumah lagi ke lokasi lain.

Akhirnya rumah yang cocok itu mereka temukan setelah mencari hampir empat bulan lamanya. Yang membuatnya jatuh hati, rumah ini berada dikawasan yang nyaman dan asri serta  jauh dari hiruk pikuk kendaraan bermotor dan masih agak bersih dari polusi, tidak seperti rumah lama  mereka. Dengan beberapa perubahan pada beberapa bagian rumah dan menyulap sisa tanah yang oleh pemilik dulu dibiarkan  begitu saja menjadi taman kecil, rumah itu berubah menjadi rumah yang nyaman dan asri. Dia sungguh betah tinggal dirumah ini. Risman, Wulan dan Anggi  pun kelihatannya  senang dan betah tinggal dirumah ini. Dia berharap, suasana yang menyenangkan seperti itu akan berjalan selamanya.  Tapi, bila suatu kali dia nyeletuk memuji keadaan mereka yang lebih menyenangkan dirumah baru itu, mendadak saja Risman jadi kelihatan suka tersinggung. Awalnya dia tak tahu mengapa, tapi kejadian sore kemarin membuatnya menjadi mengerti.  Saat itu mereka tengah memperhatikan Wulan dan Anggi yang sedang main sepeda dihalaman rumah mereka.

“Untung kita pindah kekawasan ini, ya, Ris. Kalau tidak, mungkin anak-anak tidak punya tempat untuk bermain dihalaman rumah sendiri.” Katanya santai tanpa punya maksud apa-apa. “Coba kalau kita masih tinggal dirumah yang dulu, iih, aku tak bisa membayangkan, anak-anak tiap hari main ditempat yang kotor.”

MAWAR UNGU





Unknown | 1:22:00 PM | In | Be the first to comment! | +1


          

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang raja dengan tiga puterinya yang cantik jelita. Yang  sulung bernama  Herlina, yang nomor dua  Sharina,  dan yang bungsu  bernama Haliza. Raja dan ratu sangat menyayangi ketiga  puterinya dan memanjakan mereka. Setelah besar, Herlina tumbuh menjadi seorang puteri yang congkak dan angkuh. Apalagi dia menyadari suatu saat kelak dialah yang akan menggantikan kedudukan ayahnya menjadi seorang ratu. Sharina pemalas dan pemarah, pekerjaan sehari-harinya hanya dudud-duduk ditaman sambil bermain-main dengan binatang-binatang peliharaannya. Sementara yang bungsu, Haliza, tumbuh menjadi puteri yang berkepribadian hangat, periang dan baik hati. 

Pada suatu hari raja jatuh sakit yang sangat parah. Tak ada seorang pun tabib istana yang bisa menyembuhkan raja. Namun salah seorang tabib akhirnya mengatakan bahwa raja bisa sembuh oleh sebuah ramuan dari sejenis mawar berwarna ungu. Mawar ungu itu tumbuh pada sebuah pulau kecil yang berada ditengah sebuah telaga.  Sementara telaga itu sendiri berada didalam sebuah hutan belantara. Menurut tabib itu,  bunga itu harus dipetik oleh salah seorang puteri raja.

Akhirnya ratu membicarakan masalah itu dengan ketiga puterinya. Ratu meminta puteri sulungnya untuk pergi ketengah hutan untuk memetik mawar ungu itu.

“Baiklah bunda, saya akan pergi.” Kata Puteri Herlina. “Tapi saya minta pengawalan dari prajurit istana dan perbekalan selama saya melakukan perjalanan.”

Esok harinya puteri Herlina pergi menuju hutan. Ketika telah tiba di hutan yang dimaksud, rombongan berhenti disebuah telaga yang berair hitam pekat. Itulah telaga yang  dimaksud oleh tabib istana itu. Didekat telaga itu ada sebuah pondok kecil. Seorang kakek yang buruk rupa sedang duduk didepan pondoknya.

“Mau pergi kemanakah tuan puteri?” tanya kakek itu dengan ramah.

“Eh kakek, saya mau menyeberang ke tengah telaga itu. Bisakah aku meminjam perahu itu?” Tanya Herlina  sambil menunjuk sebuah perahu yang tertambat ditepi telaga.

“Ada keperluan apakah tuan puteri hendak pergi ketengah telaga itu? Telaga itu beracun.  Sungguh berbahaya menyeberangi telaga itu.” Kata kakek  itu.

“Aku tidak peduli.” Sahut Herlina dengan ketus. “Lagi pula bukan aku yang akan menyeberang kesana tapi pengawalku.”

Kakek  itu tersenyum. “Kalau aku meminjamimu perahuku, apa yang akan tuan puteri berikan kepadaku sebagai imbalannya?”

“Aku membawa emas berlian. Aku bisa menyewa perahumu dengan emas berlian yang kubawa.“ sahut Herlina dengan nada congkak.

Sabtu, 14 September 2013

INI KISAH TENTANG JARI KELINGKING DAN IBU JARI





Unknown | 5:04:00 PM | In | 1 Comment so far | +1


Ilustrasi (sumber: google)

Sore itu aku berpamitan dengan beberapa teman dan tibalah saatnya aku berpamitan dengannya. Matanya serius menatap retinaku. Tak setetes air matapun ia alirkan dalam perpisahan itu. Aku memintanya untuk berdiri sejenak karena ada sesuatu yang ingin kukatakan.
Teringat waktu ia mengungkapkan betapa inginnya ia mengajariku lebih lama. Ia mengajariku banyak hal.
Tanpa kuduga ia mengulurkan tangan kanannya di hadapanku; jari-jarinya terlipat, menyisakan kelingking dan jempol yang terbuka sambil memintaku berjanji. Aku berkata dalam hati bahwa aku tidak bisa.
Pertama, aku tidak boleh menyentuhnya. Kedua, aku memang sedang dalam situasi tak bisa berjanji dengan apa yang diharapkannya. Tapi ia terus memaksa. akhirnya kukemukakan alasanku yang pertama dan ia meminta maaf. Ia terdiam sebentar, kemudian kembali mengulurkan kelingking dan jempolnya kepadaku. 
Kali ini dengan mengucapkan janji dalam hati, begitu ia memintaku tetap berjanji. Aku tersenyum sambil menghela nafas. Tak tega hati, akhirnya aku memutuskan untuk berjanji dalam hati. Lebih tepatnya, berniat untuk memenuhi harapannya. 
Kuacungkan kelingking dan jempol kananku, kubengkokkan kelingking dan membuat gerakan mengait di udara, kemudian jempolku bertemu dengan jempolnya. Ia pun tersenyum, matanya yang sipit tertarik di kedua ujungnya.

Sore tadi pertemuan terakhir kami. Setidaknya begitu menurut jadwal yang ada saat ini. Ia seolah-olah mengatakan masih tidak percaya bahwa ini jadwal terakhir. Seolah-olah ia lebih ingin meyakini bahwa kami akan bertemu lagi. Aku menanggapinya dengan tertawa kecil. Sampai akhir pertemuan, kami sama-sama tidak menunjukkan gelagat khusus. Seolah dalam diam saling bersepakat bahwa hari ini kami tidak memerlukan ucapan selamat tinggal. Bahkan ia terkesan tak ingin kupamiti. 
Maka akhirnya tanpa pamit seperti biasanya aku melangkahkan kaki keluar dan setelah beberapa hari langit hanya mendung, akhirnya sore tadi hujan pun turun.
KW

Kamis, 14 Maret 2013

TARJO SI ANAK SINGKONG #1





Unknown | 6:46:00 PM | In | Be the first to comment! | +1


Gue nyobak buat nulis cerita, gue dapet inspirasi ketika lagi tidur-tiduran. Semoga kalian menikmati cerita fiktif ciptaan gue,,,.. CEKIDOT gan......

==============================================
TARJO SI ANAK SINGKONG
==============================================

PERSAHABATAN


Pagi ini Tarjo berangkat kuliah dengan motor kesayangannya yang ia beri nama "Barbie". "Bruuummm..... bruuummm.... brummm.....", tarjo memanaskan motornya. Tarjo adalah seorang anak yatim piatu, ibunya meninggal karena serangan jantung dan ayahnya meninggal karena stroke. Ia hanya tinggal dengan neneknya disebuah gubug kecil di tanah seluas 10 hektar milik almarhum kakeknya. 

"Tarjo, loe kuliah yang baik ya. Nenek doain loe cepet tamat, bukan tamat karena di DO tapi tamat karna loe udah nyelesein kuliah dan dapat S1", kata neneknya. 
"DO..? Pleaseee deh nekk.. Tarjo kan mahasiswa terbaik dan terlangka di kampus", kata tarjo kesal

"Emang loe pinter Jo?", balas neneknya.
 "Jelas enggak dong, emang gak keliatan apa dari wajah Tarjo yang lapuk dilahap Tugas Kampus mulu?".
 "Ya iya nenek tau loe pinter Jo", balas neneknya dengan perasaan senang.
 "Okeee nek, Tarjo ngampus dulu"

Pagi itu tarjo kekampus dengan hati senang, karena ia dapat moment penting pagi itu, iya moment penting, moment dimana Tarjo dapat bersandau gurau dengan neneknya yang wajahnya makin hari makin kriput tergerus oleh kerasnya dunia. Betapa tidak, neneknya adalah satu-satunya orang terpenting dalam kehidupan Tarjo.

 Sejak umur 4 tahun Tarjo telah kehilangan ibunya, dan ayahnya telah meninggalkannya diumur 5 tahun untuk mencari pekerjaan di kota, entah kerja apa. Sewaktu ayahnya kembali setelah 3 tahun meninggalkan rumah, kehidupan ekonomi keluarganya sempat membaik, sampai akhirnya ekonomi itu terpuruk lagi karena ayahnya adalah seorang bandar narkoba.Tak lama setelah di penjara, ayahnya mengalami stroke dan meninggal. Kini tinggalah Tarjo bersama neneknya saja.

Walau Tarjo memiliki masa lalu yang suram, namun ia berbesar hati menerima kenyataan yang tentu ia tidak bisa hindari. Semenjak ditinggal ayahnya, kehidupan perekonomian Tarjo dan neneknya jauh dari kata cukup. Neneknya hanya seorang pengupas bawang di warung nasi di desa tempat Tarjo bertempat tinggal.